Kamis, 20 Juni 2013

KARAKTERISTIK SENI RUPA ANAK


KARAKTERISTIK SENI RUPA ANAK

Hasil suatu karya seni sesungguhnya sangat dipengaruhi dan bahkan ditentukan oleh pelaku seni itu sendiri. Secara umum dapat dikatakan bahwa karya seni anak bersifat ekspresif karena karya rupa mereka umumnya merupakan suatu ungkapan yang kuat, jujur, langsung berangkat dari hati dan dari dalam dirinya. Bersifat dinamis yaitu artinya karya mereka umumnya mengesankan sesuatu yang bergerak terus. Pada pemilihan warna misalnya anak lebuh suka pada warna kontras, tajam atau mencolok.
A.    TIPOLOGI
Tipologi seni rupa anak terdiri atas 3 tipe. Yakni tipe visual, tipe haptik dan tipe  campuran (visual – haptik). Sebenarnya  pada kenyataannya jarang tipe-tipe ini muncul secara murni ,umumnya  tipe-tipe tersebut bergerak dan cenderung bercampur .
1.      Tipe visual
·         Lebih menonjol daya tangkap indrawinya
·         Mengutamakan kesamaan hasil rekaman objek nyata
·         Memperhatikan proporsi dan perbandingan rekaman objek nyata
·         Menonjolkan sentuhan perspektif
2.      Tipe haptik
·          Tidak berorientasi pada kenyataan
·          Lebih mengutamakan suasana hati atau emosi
·          Bersifat sangat individual
B.     KARAKTERISTIK GAMBAR ANAK
1.      Gambar X-Ray            : Anak mewujudkan dan menggambarkan benda-benda yang dipikirkan tampak tembus pandang .
2.      Gambar rebahan          : Karya seni yang sejalan dengan analisis anak terhadap benda-benda disekitarnya. Ia berpandapat bahwa semua benda teletak tegak lurus pada latarnya.
3.      Perspektif burung        :  Anak berkarya seni dengan menunjukan seluruh objek terkait dengan objek yang menjadi sasaran pandang, tetapi dalam bentuk kecil-kecil. Jadi seperti kita melihat sesuatu dari ketinggian (burung terbang)
4.      Gambar realistis          : Anak tahu dan mengerti kenyataan  dia tidak lagi bersifat naif tidak hanya berpanut pada emosinya tetapi juga dasar rasionya
5.      Gambar tumpang tindih : Anak menggambar objek dengan cara tumpang tindih antara objek yang satu dengan objek yang lain, yakni mulai timbul kesadaran ruang.
C.    PERIODESASI SENI RUPA ANAK
1.      Lowenfeld dan Brittain membagi masa perkembangan karya seni rupa anak sebagai berikut.
·         Masa coreng moreng       : 2 - 4   tahun
·         Masa pra bagan                : 4 - 7   tahun
·         Masa bagan                      : 7 - 9   tahun
·         Masa awal realisme          : 9 - 12 tahun 
·         Masa naturalisme semu    : 12 - 14 tahun  (Pseudo Naturalislic)
·         Masa dewasa                   : 14 - 17tahun  (adaleccent Art,the periode of Deccision)
2.      Viktor Lowenfeld membuat tahapan sebagai berikut :
·         Masa meencoreng ( umur 2-4 tahun)
Aktifitas motorik yang terwujud dalam goresan tebal tipis dengan arah yang belum terkendali dan warna tidak begitu penting. Coreng mencoreng yang dibuat mula-mula merupakan goresan yang tidak menentu, tebel tipis terganting pribadi anak. Lama kelamaan anak menyadari adanya hubungan yang dibuatnya antara gerkan tangannya dengan hasil yang diperolehnya. Karenanya berahlah goresannya menjadi panjang, bolak-balik kemudian bulat-bulat.
·         Masa prabagan (umur 4 hingga 7 tahun)
Anak mulai menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia sekiternya. Pada mulanya bentuk sulit untuk dikenali, semakin lama bisa dikenali, misalnya manusia, rumah, dan pohon, perhatian lebih tertuju pada hubungan antara gambar dengan objek dari pada warna dan objek. Obyek yang digambar tidak ada hubungannya dengan objek yang lain.Gerakan yang dilakukan oleh anak usia ini sudah terkendali. Ia sudah bisa mengkoordinasikan pikiran dengan emosi dan kemampuan motoriknya.
·         Masa Bagan ( umur 7 hingga 9 tahun)
Bagan adalah konsep tentang bentuk dasar dari suatu objek visual. Semakin kaya akan konsep semakin besar pula kemungkinan untuk berekspresi. Pengamatan anak pada usia ini sudah semakin teliti dan sedah mengetahui bagaimana hubungan dirinya dengan lingkungan disekitarnya.
Pada dasarnya anak menggambar terdorong oleh kebutuhannya berekspresi.
·         Masa Permulaan Realisme ( umur 9 hingga 11 tahun )
Pada masa ini anak sudah lebih cermat dalam mengamati alam sekitarnya. Konsep bagan yang sudah ada pada masa sebelumnya sedah lebih mendetail lagi. Konsep gambarnya adalah bidang, bukan garis. Mereka menggambar figur-figur di seluruh bidang gambar. Untuk objek yang lebih jauh digambar di bagian atas kertasnya. Ukurannya sama dengan objek yang paling dekat. Gejala tersebut merupakan gejala yang mendekat kepada realisme meskipun warna-warna yang digunakan masih cenderung subjektif sesuai dengan kesukaannya sendiri.
·         Masa Realisme Semu ( umur 11 hingga 13 tahun )
Dalam masa ini intelegensi sudah makin berkembang. Ada pendekatan realitis terhadap alam sekitarnya meskipun belum sadar sepenuhnya, apalagi sebaik orang dewasa. Tingkah laku mereka tampak makin kompleks, banyak bergerak dan banyak yang ingin diketahui serta mulai sadar akan kebutuhannya bekerja sama. Gejala terpenting dari masa ini adalah adanya kkecendrungan dua macam tipe gambar, yaitu tipe visual dan non visual (haptic).

Karakter Gambar Anak Berkembang Seiring Pertambahan Usia
Menggambar merupakan kegiatan ekspresi kreatif yang populer di kalangan anak-anak. Pengalaman batin yang sederhana pada anak-anak merupakan kenangan indah dan hangat yang sewaktu-waktu bisa diungkapkan dengan berekspresi dan juga merupakan pendorong baginya. Sebagian besar kehidupan anak-anak dipenuhi dengan permainan, permainan sebagai bagian yang menyeluruh dalam kehidupan anak. Dalam permainnya anak senantiasa meniru-niru orang dewasa, mereka membuat rumah-rumahan, membersihkannya, mengecatnya, menatanya layaknya orang dewasa.
Sebagaimana kemampuan lain pada umumnya, kemampuan menggambar anak sudah berkembang bahkan sejak periode batita. Lebih dari itu gambar yang dihasilkan oleh seorang anak di setiap periode memiliki arti dan karakteristik yang berbeda-beda. Viktor Lowenfeld dalam bukunya Creative and Mental Growth (1982) meneliti tingkat perkembangan menggambar anak berdasarkan usia, menganalisis tentang periodisasi yang menjadi ciri umum lukisan anak-anak sesuai waktu (usia) dan tahap perkembangan sosial intelektual mereka, sebagai berikut:


1.      Periode Coreng-moreng (Scribbling Stage)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 2 sampai 4 tahun (masa prasekolah). Gambar yang dibuat tanpa makna, hanya perbuatan meniru orang lain, tetapi merupakan latihan gerak motorik dari koordinsai gerakan tangan dan mata, gambar berupa goresan tipis tebal dengan arah yang belum terkendali. Periode ini terditi dari 3 fase, hanya setiap fase jaraknya sangat singkat sekali, sehingga dianggap satu fase.
a.      Goresan tak Beraturan

Gambar tanpa makna, karena anak melakukannya hanyalah meniru orang lain, belum dapat membuat coretan berupa lingkaran, karena hanya merupakan latihan gerak motorik antara mata dengan gerak tangan, bentuk garis sembarangan, bersemangat tanpa melihat ke kertas, merupakan fase yang paling awal dalam tahap perkembangan menggambar anak.
b.     
Goresan Terkendali
Berupa goresan-goresan tegak, mendatar, lengkung
bahkan lingkaran, coretan dilakukan berulang-ulang.
Nampak anak mulai memerlukan kendali visual terhadap
coretan yang dibuatnya, disini koordinasi antara
perkembangan visual (gerak mata) dengan gerak motorik
(tangan) semakin lengkap. Goresan dibuat dengan penuh semangat.
c.      
Goresan Bermakna
Pengalaman anak dalam membuat goresan semakin lengkap, gambar anak mulai terwujud menjadi satu kesatuan, bentuk yang semakin bervariasi, anak mulai memberi nama pada hasil coretannya dan mulai menggunakan warna. Dalam menggambar, anak belum mempunyai tujuan untuk
menggambar sesuatu, karena fase ini lebih didasari oleh perkembangan fisik dan jiwa anak. Anak yang normal pasti suka meggambar.

2.      Periode Pra Bagan (Pre Schematic Stage)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 4-7 tahun (taman kanak-kanak). Sejalan dengan meningkatnya perkembangan anak, pengalaman anakpun makin bertambah, lingkup sosial makin luas, anak berkesempatan mencipta, bereksperimen, menjelajah, dan berbagai hal baru yang erat dengan perkembangan jiwa, rasa maupun emosinya. Anak mulai mengenal dunia

baru, mengenal sekolah, teman sebaya, guru, dan lingkungan baru. Sehingga gambar yang dibuat oleh anak mulai menggambar bentuk-bentuk yang berhubungan dengan dunia sekitar mereka. Rumah, manusia pohon dan lingkungan sekitarnya menjadi obyek yang menarik perhatian anak. Unsur warna kurang diperhatikan, anak lebih tertuju pada hubungan antara gambar dan obyek gambar. Warna menjadi subyektif karena tidak mempunyai hubungan dengan obyek.
3.      Periode Bagan (Schematic Stage)

Periode ini berlaku bagi anak berusia 7 sampai 9 tahun. Sejalan dengan tahap perkembangan anak, pada akhir tahap ini perkembangan akal sudah mulai mempengaruhi gambar anak. Anak sudah mulai menggambar obyek dalam suatu hubungan yang logis dengan gambar lain. Konsep ruang mulai nampak dengan adanya pengaturan antara hubungan obyek dengan ruang, gambar mulai realistis, mulai mengarah ke bentuk-bentuk yang mendekati kenyataan. Ciri utama gambar anak pada fase ini adalah adanya garis dasar yang merupakan tempat obyek atau benda-benda berdiri, merupakan suatu perkembangan yang wajar. Muncul gejala yang disebut “folding over”, yakni cara menggambar obyek tegak lurus pada garis dasar, meskipun obyek akan nampak terbalik. Ciri lainnya, adanya gambar yang disebut “sinar X” (X-ray), yakni gambar yang berisi benda atau obyek lain dalam suatu ruang yang sebenarnya tidak kelihatan. Gambar dibuat berdasarkan ide anak itu sendiri, misalnya gambar rumah yang kelihatan bagian dalamnya seolah-olah rumah tersebut terbuat dari kaca bening. Warna mulai obyektif, artinya anak menyadari adanya hubungan antara warna dengan obyek. Ciri lain yang kurang menguntungkan, gambar nampak lebih kaku. Anak cenderung mencontoh gambar orang lain, hal ini karena berkembangnya sifat kooperatif di antara mereka.
4.     
Periode Awal Realisme (Early Realism Stage)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 9 sampai 12 tahun (kelas IV SD-VI SD) disebut pula “usia pembentuk kelompok”. Masa ini ditandai oleh besarnya perhatian anak terhadap obyek gambar yang dibuatnya. Bentuk-bentk gambar mulai mengarah ke bentuk realistis, tetapi nampak lebih kaku, hal ini sebagai
akibat perkembangan sosial yang meningkat, mereka lebih memikirkan bentuk gambar yang dapat diterima oleh lingkungannya, akibatnya spontanitas berkurang. Anak mulai mengekspresikan obyek gambar dengan karakter tertentu, lelaki atau wanita secara jelas. Karakteristik warna mulai mendapat perhatian, walaupun belun adanya penampilan dalam hal perubahan efek warna dalam terang dan bayang-bayang. Dalam gambar adanya penemuan penggambaran bidang dasar sebagi tempat pijakan (ground) benda dan obyek gambar. Adanya garis horizon, walaupun fungsinya belum dimengerti, sehingga kesan perspektif akan kelihatan janggal. Terlihat adanya menghias (mendekorasi ) obyek gambar.
5.      Periode Naturalistik Semu (Pseudo Naturalistic Stage)
Periode ini berlaku bagi anak berusia 12 sampai 14 tahun. Masa pra puber. Gambar yang dibuat sesuai dengan obyek yang dilihatnya, sehingga timbul minat terhadap naturalisme, terutama pada anak yang bertipe visual. Anak menjadi kritis terhadap karyanya sendiri. Ia mulai memperhitungkan kualitas tiga dimensi (perspektif).

Mereka mampu menyerap apa yang mereka lihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, seperti dari buku-buku komik, kalender, bahkan dari media visual lainnya (televisi, majalah,
Koran dan lain-lain). Oleh karenanya, alangkah lebih baiknya apabila sebagai orang tua kita mau mengambil langkah pertama, membuat suatu perubahan dalam membebaskan kreatifitas anak “Membebaskan” anak menggambar sama dengan membebaskan anak dalam menuangkan imajinasi dan mengungkapkan dirinya melalui gambar. Melalui menggambar, secara tanpa disadari anak dapat belajar memecahkan persoalan yang dihadapi. Dengan menggambar anak dapat bermain dan berekspresi dengan sepuas-puasnya. Jadi, tugas guru dan orang tua sebaiknya tidak mengajarkan konsep pendidikan seperti di masa lalu, dimana anak dianggap sebagai mahluk yang lemah, serba tidak tahu. Tugas orang dewasa hanyalah mengembangkannya secara alami.

3 komentar:

  1. Kak, sumbernya cantumin atuh, hehe
    Hatur nuhun terimakasih kak :)

    BalasHapus
  2. Thanks Mba Vieka Raika.
    main juga ke rumahku yah at http://onnetzblog.com

    BalasHapus