Kamis, 20 Juni 2013

PERKEMBANGAN MASA ANAK SEKOLAH DASAR (6 – 12 TAHUN)


PERKEMBANGAN MASA ANAK SEKOLAH DASAR (6 – 12 TAHUN)
Permulaan masa pertengahan dan akhir anak-anak ditandai dengan masuknya anak ke kelas satu sekolah dasar.Bagi sebagian besar anak, hal ini merupakan perubahan besar dalam pola kehidupannya. Sebab, masuk kelas satu merupakan peristiwa penting bagi anak yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan dalam sikap, nilai, dan perilaku.
Perkembangan Fisik
Masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat.
Karena itu, masa ini sering  juga disebut sebagai “periode tenang” sebelum pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja. Meskipun merupakan “masa tenang” tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi proses pertumbuhan fisik yang berarti.
Beberapa aspek dari pertumbuhan fisik yang terjadi selama periode akhir anak-anak, diantaranya keadaan berat dan tinggi badan, keterampilan motorik.
·        Keadaan Berat dan Tinggi Badan
Pertumbuhan fisik pada masa ini, disamping memberikan kemampuan bagi anak-anak untuk berpartisipasi dalam berbagai aktivitas baru, tetapi juga dapat menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kesulitan-kesulitan secara fisik dan psikologis bagi mereka.
Peningkatan berat badan lebih banyak daripada tinggi badannya.


Perkembangan Motorik
Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan, maka selama masa pertengahan dan akhir anak-anak ini perkembangan motorik menjadi lebih halus dan lebih terkoordinasi dibandingkan dengan awal masa anak-anak.
Koordinasi antara tangan dan mata yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar, menangkap berkembang.
Tangan semakin kuat, lebih menyukai pensin daripada krayon untuk melukis.
Keterampilan manipulatif berkembang, melakukan gerakan yang kompleks, cepat, dan rumit, menghasilkan kerajinan tertentu, memainkan musik.
Penguasaan badan, melakukan bermacam-macam latihan senam serta aktivitas olahraga berkembang pesat.
Untuk memperhalus keterampilan-keterampilan motorik mereka, anak-anak terus melakukan berbagai aktifitas fisik. Aktfitas fisik ini dilakukan dalam bentuk permainan yang kadang-kadang bersifat informal, permainan yang diatur sendiri oleh anak-anak.
Anak-anak juga melibatkan diri dalam aktivitas permainan olahraga yang bersifat formal, seperti olahraga senam, berenang.
Pada waktu yang sama,anak-anak mengalami peningkatan dalam koordinasi dan pemilihan waktu yang tepat dalam melakukan berbagai cabang olahraga, baik secara individual ataupun kelompok.
Partisipasi di berbagai cabang olahraga, dapat memberi konsekuensi positif dan negatif bagi anak-anak.
Disatu sisi, partisipasi anak-anak dalam bidang olah raga dapat memberi latihan dan kesempatan untuk belajar bersaing, meningkatkan harga diri (self-esteem)dan memperluas pergaulan dan persahabatan dengan teman-teman sebaya.
Tetapi disisi lain, olah raga juga menimbulkan dampak negatif bagi anak-anak. Mereka mengalami terlalu banyak tekanan untuk berprestasi dan menang, cidera fisik, harus bolos dari tugas akademis, berusaha mencapai harapan-harapan yang tidak realistis untuk menjadi atlit yang sukses.

Perkembangan Kognitif
Pada usia sekolah dasar ini daya pikir anak berkembang ke arah berpikir konkrit, rasional dan objektif. Daya ingatnya menjadi sangat kuat, sehingga anak benar-benar berada dalam suatu stadium belajar.

·        Perkembangan Kognitif Menurut Teori Piaget
Menurut teori kognitif Piaget, pemikiran anak-anak usia sekolah dasar disebut pemikiran operasional konkrit.
Menurut Piaget, operasi adalah hubungan-hubungan logis diantara konsep-konsep atau skema-skema.
Operasi konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-obek atau peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.
Mampu mengembangkan pikiran logis, mampu memahami operasi dalam sejumlah konsep.
Menurut Piaget, anak-anak pada masa konkrit operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yakni kemampuan anak untuk berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini adalah karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi, yaitu : negasi, resiprokasi, dan identitas.


1.     Negasi (Negation)
Pada masa pra-operasional anak hanya melihat keadaan permulaan dan akhir dari deretan benda, yaitu pada mulanya keadaannya sama dan pada akhirnya keadaannya menjadi tidak sama.
Pada masa konkrit operasional, anak memahami proses apa yang terjadi di antara kegiatan itu dan memahami hubungan-hubungan antara keduanya.
2.     Hubungan timbal balik (resiprokasi)
Ketika anak melihat bagaimana deretan dari benda-benda itu diubah, anak mengetahui bahwa deretan benda-benda bertambah panjang tetapi tidak rapat lagi dibandingkan dengan deretan lain. Karena anak mengetahui hubungan timbal balik antara panjang dan kurang rapat atau sebaliknya kurang panjang tetapi lebih rapat, maka anak tahu pula bahwa jumlah benda-benda yang ada pada kedua deretan itu sama.
3.     Identitas
Anak pada masa konkrit operasional sudah bisa mengenal satu persatu benda-benda yang ada pada deretan-deretan itu. Anak bisa menghitung, sehingga meskipun benda-benda dipindahkan, anak dapat mengetahui bahwa jumlahnya akan tetap sama.

Setelah mampu mengkonservasi angka, maka anak bisa mengkonservasikan dimensi-dimensi lain, seperti isi dan panjang.
Operasi yang terjadi dalam diri anak memungkinkan pula untuk mengetahui suatu perbuatan tanpa melihat bahwa perbuatan tersebut di tunjukkan.
Anak telah memiliki struktur kognitif yang memungkinkannya dapat berpikir untuk melakukan suatu tindakan, tanpa ia sendiri bertindak secara nyata.
Apa yang dipikirkan oleh anak masih terbatas pada hal-hal yang ada hubungannya dengan sesuatu yang konkrit, suatu realitas secara fisik, benda-benda yang benar-benar nyata.
Keterbatasan lain yang terjadi dalam kemampuan berpikir konkrit anak ialah egosentrisme. Artinya, anak belum mampu membedakan antara perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang secara langsung dialami dengan perbuatan-perbuatan dan objek-objek yang hanya ada dalam pikirannya.
Egosentrisme pada anak terlihat dari ketidakmampuan anak untuk melihat pikiran dan pengalaman sebagai dua gejala yang masing-masing berdiri sendiri.

Perkembangan Memori
Selama periode ini mereka berusaha mengurangi keterbatasan-keterbatasan tersebut dengan menggunakan apa yang disebut dengan strategi memori (memory strategy), yaitu perilaku yang disengaja digunakan untuk meningkatkan memori.

Matlin menyebutkan empat macam strategi memori yang penting yaitu :  rehearsal, organization, imagery, dan retrieval.
1.     Rehearsal (pengulangan) adalah salah satu strategi meningkatkan memori dengan cara mengulangi berkali-kali informasi setelah informasi tersebut disajikan.
Meskipun demikian strategi tersebut sangat berguna bagi peningkatan memori jangka pendek.
2.     Organization (organisasi), seperti pengkategorian dan pengelompokkan, merupakan strategi memori yang sedang digunakan oleh orang dewasa.
Anak-anak yang masih kecil tidak dapat mengelompokkan secara spontan item-item yang sama untuk membantu proses memorinya. Anak-anak masa pertengahan dan akhir cenderung mengorganisasi informasi secara spontan untuk diingat, dibandingkan dengan anak-anak yang masih kecil.
3.     Imagery (perbandingan) adalah tipe dari karakteristik pembayangan dari seseorang.
Perbandingan juga merupakan salah satu strategi memori yang berkembang selama masa pertengahan dan akhir anak-anak.
4.     Retrieval (pemunculan kembali) adalah proses mengeluarkan atau mengangkat informasi dari tempat penyimpanan.
Pemunculan kembali juga merupakan strategi memori yang banyak digunakan oleh orang dewasa.

Seiring dengan bertambahnya usia, anak-anak belajar bagaimana menggunakan keempat strategi tersebut diatas. Mereka akan menyadari apabila mereka ingin mengingat sesuatu, mereka akan menggunakan strategi-strategi memori tersebut daripada hanya sekedar mempercayai bahwa mereka akan mengingat materi-materi yang penting.

Perlu juga dipahami bahwa disamping strategi-strategi memori diatas, juga terdapat hal-hal lain yang mempengaruhi memori anak. Seperti tingkat usia, sifat-sifat anak, serta pengetahuan yang telah diperoleh anak sebelumnya.




Perkembangan Pemikiran kritis
Pemikiran kritis adalah pemahaman atau refleksi terhadap permasalahan secara mendalam, mempertahankan pikiran agar tetap terbuka bagi berbagai pendekatan dan perspektif yang berbeda, tidak mempercayai begitu saja informasi-informasi yang datang dari berbagai sumber (lisan atau tulisan), berpikir secara reflektif dan evaluatif.
Istilah “kritis” lebih merupakan masalah disposisi (watak) daripada kecakapan (ability) dan tidak merujuk pada pikiran.

 Perkins, Jay dan Tishman pemikiran yang baik meliputi disposisi-disposisi untuk :
a.     Berpikir terbuka, fleksibel dan berani mengambil resiko
b.     Mendorong keingintahuan intelektual
c.      Mencari dan memperjelas pemahaman
d.     Merencanakan dan menyusun strategi
e.      Berhati-hati secara intelektual
f.       Mencari dan mengevaluasi pertimbangan-pertimbangan rasional
g.     Mengembangkan metakognitif.

Robert J. Sternber memberikan beberapa usulan untuk mengembangkan pemikiran kritis anak, yaitu :
1.     Mengajarkan anak menggunakan proses-proses berpikir yang benar
2.     Mengembangkan strategi-strategi pemecahan masalah
3.     Meningkatkan gambaran mental mereka
4.     Memperluas landasan pengetahuan mereka
5.     Memotivasi anak untuk menggunakan keterampilan-keterampilan berpikir yang baru saja dipelajari
Santrock menyatakan untuk mampu berpikir kritis, anak harus mengambil peran aktif dalam proses belajar.
Anak perlu mengembangkan berbagai proses berpikir aktif : (1) mendengarkan secara seksama, (2) mengajukan pertanyaan, (3) mengorganisasikan pemikiran, (4) memperhatikan persamaan dan perbedaan, (5) melakukan deduksi, (6) menarik kesimpulan.

Paulo Freire menyatakan untuk mengembangkan kesadaran berpikir kritis, guru dan siswa harus berperan sebagai pemain bersama.
Guru dan siswa bersama-sama memecahkan suatu masalah. Guru dan siswa bersama-sama mencari dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran, saling mengajar dan belajar.
Menggunakan dialog dan komunikasi horisontal, metode problem posing education atau pendidikan dengan cara melempar masalah.
Pendidikan dengan cara dialog akan membangkitkan kesadaran kritis anak.
Perkembangan intelegensi (IQ)
Intelegensi telah dianggap sebagai suatu norma yang menentukan perkembangan kemampuan dan pencapaian optimal hasil belajar anak di sekolah.
Pengertian Intelegensi
Intelegensi, merupakan:
1)    Kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan
2)    Kemampuan untuk belajar atau kapasitas untuk menerima pendidikan
3)    Kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menggunakan konsep-konsep abstrak dan menggunakan secara luas simbol-simbol dan konsep-konsep.
Inteligensi : kemampuan berpikir secara abstrak, memecahkan masalah dengan menggunakan simbol-simbol verbal, dan kemampuan untuk belajar dari dan menyesuaikan diri dengan pengalaman-pengalaman hidup sehari-hari.

Pengukuran Intelegensi
tes lntelegensi.
Alfret Binet & Simon
Berangkat dari konsep usia mental  (Mental Age – MA).
Anak-anak yang terbelakang secara mental akan bertingkah laku dan berkinerja seperti anak-anak normal yang lebih muda.
Perbedaan antara usia mental (MA) dengan usia kronologis (CA) yang digunakan sebagai ukuran inteligensi.
Anak yang cerdas memiliki MA di atas CA, sedangkan anak yang bodoh memiliki MA di bawah CA.

William Stern
Menyempurnakan tes inteligensi Binet.
Mengembangkan Intelligence Quotient (IQ).
IQ menggambarkan rasio antara usia mental (MA) dan usia kronologisnya (CA), dengan rumus :
             MA
IQ = ---------------- X 100
             CA





Klasifikasi IQ
IQ
Klasifikasi
Tingkat Sekolah
Di atas 139
Sangat superior
Orang yang sangat pandai
120 - 139
Superior
Dapat menyelesaiakan studi di PT tanpa banyak kesulitan
110 - 119
Di atas rata-rata
Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan tanpa kesulitan
90 - 109
Rata-rata
Dapat menyelesaikan sekolah lanjutan
80 – 89
Di bawah rata-rata
Dapat menyelesaikan SD
70 - 79
Borderline
Dapat mempelajari sesuatu tapi lambat
Di bawah 70
Terbelakang secara mental
Tidak dapat mengikuti pendidikan di sekolah


Teori-teori Intelegensi
Charles Spearman, mengembangkan pendekatan analisis faktor.
Percaya adanya suatu faktor intelegensi umum, atau faktor G yang mendasari faktor-faktor khusus atau faktor S dalam jumlah yang berbeda.

Thurstone menganggap intelegensi dapat dibagi menjadi sejumlah kemampuan primer.
Menurut Thurstone, intelegensi umum yang dikemukakan oleh Spearman itu pada dasarnya terdiri dari 7 kemampuan primer yang dapat dibedakan dengan jelas serta dapat digali melalui test intelegensi, yaitu: (1) Pemahaman verbal (verbal comprehension), (2) kefasihan menggunakan kata-kata (word fluency), (3) kemampuan bilangan (numerical ability), (4) kemampuan ruang (spatial factor), (5) kemampuan mengingat (memory), (6) kecepatan pengamatan (perceptual speed) dan (7) kemampuan penalaran (reasoning).

Psikolog Howard Gadner mendukung gagasan bahwa kita tidak mempunyai satu intelegensi, tetapi memiliki banyak inteligensi (multiple intelligence), yang berbeda antara satu sama lain.
Masing-masing intelegensi ini meliputi keterampilan-keterampilan kognitif yang unik, dan bahwa masing-masing ditampilkan didalam bentuk yang berlebihan pada orang berbakat dan idiot (orang-orang yang secara mental terbelakang tetapi memiliki keterampilan yang sulit dipercaya dalam bidang tertentu).
Gardner juga mencatat bahwa kerusakan otak mungkin mengurangi satu jenis kemampuan, tetapi tidak pada kemampuan lain.
Teori Kontemporer tentang intelegensi berasal dari Robert J. Sternberg yang dikenal dengan “Triarchic Theory of Intelligence.”
Dalam hal ini Sternberg menyatakan bahwa intelegensi memiliki tiga bidang, yang disebutnya dengan triarchic, yaitu 1) inteligensi komponensial, 2) inteligensi eksperiensial dan 3) inteligensi kontekstual.
Beberapa teori kontemporer tentang inteligensi praktis (practical intelligence), inteligensi yang dihubungkan dengan semua kesuksesan dalam kehidupan sehari-hari dari Sternberg tersebut dibandingkan pada prestasi akademis dan intelektual.

Perkembangan Kecerdasan Emosional (EQ)
istilah “kecerdasan emosional” (Emotional Intelligence), dipopulerkan oleh Daniel Goleman berdasarkan hasil penelitian tentang neurolog dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual.
Daniel Goleman mengklasifikasikan kecerdasan emosional atas 5 komponen penting, yaitu:
1)     mengenali emosi yaitu kesadaran diri (knowing one’s emotions self awardneness), yaitu mengetahui apa yang dirasakan seseorang pada suatu saat dan menggunakannya dan mamandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.
2)    Mengelola emosi (managing emotions) yaitu menangani emosi sendiri agar berdampak positif bagi pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya satu tujuan,serta mampu menetralisir tekanan emosi.
3)    Motivasi diri (motivating oneself), yaitu menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakan dan menuntun manusia menuju sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
4)    Mengenali emosi orang lain (recognizing emotions in other), yaitu kemampuan untuk merasakan kemampuan untuk merasakan yang dirasakan  orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang banyak atau masyarakat.
5)    Membina hubungan  (handling relationship), yaitu kemampuan mengendalikan dan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, memahami dan bertindak bijaksana dalam hubungan antar manusia.




Perkembangan Kecerdasan Spiritual (SQ)
Spiritual Quotient atau kecerdasan spiritual (SQ) merupakan temuan mutakhir secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall.
Kecerdasan spiritual adalah “kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain”.
SQ merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan IQ secara efektif.
Ada 2 aspek penting dari SQ yaitu nilai dan makna.
SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai.
SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya.
SQ adalah kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.
SQ adalah kecerdasan yang tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.
Untuk membuktikan secara ilmiah tentang kecerdasan spiritual (SQ) ini, Zohar dan Marshall mengacu pada hasil penelitian psikolog dan neurolog. Diantaranya adalah penelitian neuropsikolog Michael Persinger di awal tahun 1990-an, dan yang lebih mutakhir penelitian ahli saraf V.S. Ramachanran di tahun 1997 bersama timnya di Universitas California yang menemukan eksistensi “titik Tuhan” (God spot) dalam otak manusia.
Pusat spiritual ini terletak di antara jaringan saraf dan otak. Bukti lain adalah penelitian neurolog Wolf Singer tentang the bending problem (problem ikatan), membuktikan adanya proses saraf dalam otak yang dicurahkan untuk menyatukan dan memberi makna atas pengalaman kita, suatu jaringan saraf yang secara literal mengikat pengalaman kita secara bersama untuk hidup lebih bermakna.
Zohar dan Marshall berkesimpulan betapa SQ sangat dibutuhkan dalam mencapai kehidupan yang lebih bernilai dan bermakna.
SQ telah berkembang sejak awal kehidupan hingga meninggal, atau dalam ungkapan Zohar dan Marshall sendiri, SQ adalah suatu kemampuan yang tuanya dengan umat manusia.
Perkembangan SQ dalam setiap tahap perkembangan manusia, belum tersedia data penelitian yang bisa dijadikan pedoman. Hal ini dapat dimengerti, karena SQ merupakan konsep baru dalam khazanah psikologi.
Anak-anak telah memiliki dasar-dasar kemampuan SQ yang dibawanya sejak lahir.
Untuk mengembangkan kemampuan ini, pendidikan mempunyai peran yang sangat penting. Oleh karena itu,untuk melahirkan manusia yang ber-SQ tinggi, dibutuhkan pendidikan yang tidak hanya memperhatikan perkembangan aspek IQ saja melainkan sekaligus EQ dan SQ. Dengan demikian diharapkan akan lahirlah dari lembaga-lembaga pendidikan manusia yang benar-benar utuh.
Dengan konsep SQ yang digagas oleh Zohar danMarshall, pendidikan agama nampaknya harus tetap dipertahankan sebagai bagian penting dari program-program pendidikan yang diberikan disekolah-sekolah, betapapun zohar dan Marshall membantah bahwa SQ sama dengan agama. Tanpa melalui pendidikan agama, mustahil SQ dapat berkembang dengan baik dalam diri anak.
Perkembangan kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Wujudnya adalah tindakan manusia. Melalui proses kreatif yang berlangsung dalam benak orang atau sekelompok orang,produk-produk kreatif tercipta. Produk kreatif tersebut, selalu ada sifat dasar yang sama, yaitu keberadaannya yang baru atau belum pernah ada sebelumnya
Kreativitas adalah kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru.
Adapun ciri-ciri kepribadian kreatif yang diharapkan oleh bangsa indonesia, yaitu:
1.     Mempunyai daya imajinasi yang kuat.
2.     Mempunyai inisiatif.
3.     Mempunyai minat yang luas.
4.     Mempunyai kebebasan dalam berpikir.
5.     Bersifat ingin tahu.
6.     Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.
7.     Selalu ingin mendapatkan pengalaman-pengalaman baru.
8.     Mempunyai kepercayaan diri yang kuat.
9.     Penuh semangat.
10.                        Berani mengambil resiko.
11.                        Berani mengemukakan pendapat dan memiliki keyakinan.

Pengembangan ciri-ciri kepribadian kreatif demikian sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan keluarga dan sekolah.




Upaya pengembangan kreativitas anak :
1.     Belajar adalah sangat penting dan sangat menyenangkan.
2.     Anak patut dihargai dan disayangi sebagai pribadi yang unik.
3.     Anak hendaknya menjadi pelajar yang aktif.
4.     Anak perlu merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas, tanpa adanya tekanan dan ketegangan.
5.     Anak harus mempunyai rasa memiliki dan kebangsaan di dalam kelas.
6.     Guru hendaknya berperan sebagai narasumber, bukan polisi atau dewa.
7.      Anak perlu merasa bebas untuk mendiskusikan masalah secara terbuka, baik dengan guru maupun teman sebaya.
8.     Kerjasama selalu lebih daripada kompetisi.
9.     Pengalaman belajar hendaknya dekat dengan pengalaman dari dunia nyata.

Perkembangan Bahasa
Selama masa akhir anak-anak, perkembangan bahasa terus berlanjut. Dari berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah, bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain, serta melalui radio dan televisi anak-anak menambah perbendaharaan kosakata yang ia pergunakan dalam percakapan dan tulisan.




Perkembangan psikososial
Dunia Psikososial anak menjadi semakin kompleks dan berbeda dengan masa awal anak.
Relasi dengan keluarga dan teman sebaya terus memainkan peranan penting.
Beberapa aspek penting perkembangan psikososial selama masa pertengahan dan akhir anak-anak, diantaranya:
a)     Perkembangan pemahaman diri
Pada usia sekolah dasar, pemahaman diri atau konsep diri anak mengalami perubahan yang sangat pesat. Perubahan ini dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tiga karakteristik pemahaman diri, yaitu (1) karakteristik internal, (2) karakteristik aspek-aspek sosial, dan (3) karakteristik perbandingan sosial.
b)    Perkembangan hubungan dengan keluarga
c)     Perkembangan hubungan dengan teman sebaya
d)    Pembentukan kelompok
e)     Popularitas, penerimaan sosial dan penolakan
f)      Sekolah
g)     Pengaruh guru

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar