masalah-masalah pembelajaran di SD dikaji dalam PTK

BAB 2
PEMBAHASAN
A.    Perencanaan
Perencanaan merupakan langkah pertama yang diakukan dalam pelaksanan PTK, Langkah utama dalam perencanaan adalah : 1) identifikasi masalah, 2) menganalisis dan merumuskan masalah, 3) analisis akar penyebab masalah, 4) pengembangan intervensi (pemecahan masalah), dan menyusun rancangan tindakan.
1.      Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah merupakan langkah pertama yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas. Kegiatan ini merupakan langkah yang menentukan dalam kegiatan penelitian untuk menetapkan masalah. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri dengan kolaborator, supaya mereka terlibat dalam proses penelitiannya. Identifikasi masalah merupakan teknik untuk mengetahui  adanya masalah yang  dapat  dipecahkan melalui  PTK, tidak semua masalah yang tampak  perlu dipecahkan melalui PTK.  Ada rambu-rambu untuk  pemilihan masalah yang dapat dipecahkan  dengan  PTK, hal tersebut merupakan pedoman  untuk mengidentifikasi masalah  secara benar. Adapun  rambu-rambu  tersebut  adalah  sebagai berikut:
(a)      Masalah harus riil , masalah tersebut benar-benar ada  atau dirasakan sebagai masalah yang berasal dari pengamatan atau pengalaman sehari-hari guru sendiri Masalah itu dilihat atau diamati atau dirasakan dalam pelaksanaan tugas mengajar sehari-hari.  Sebagai contoh: menurut data kelas (sekolah)  ditemukan bahwa (i)  sebagian besar siswa  (>75%)  tidak dapat menguasai ketrampilan matematika dasar, (ii) mayoritas siswa (>85%) tidak berminat belajar bahasa Inggris, (iii) hanya sebagian kecil  siswa mendapat nilai fisika kurang dari 7, (iv) dst...dst. Masalah-masalah pendidikan seperti ini dapat dikategorikan sebagai masalah yang nyata karena memang didukung dengan data-data empiris (lapangan) seperti  data kelas, data sekolah,  observasi, dan jurnal, catatan harian  guru/kepala sekolah.
(b)     Masalah harus pula  bersifat  on-the job (berada dalam kewenangan peneliti),  artinya masalah tersebut memang berada dalam batas kewenangan peneliti. Hal ini penting untuk diperhatikan mengingat  masalah-masalah yang  tidak berada dalam kewenangan akan sulit untuk dipecahkan oleh peneliti.
(c)      Masalah  harus problematik (artinya masalah tersebut perlu dipecahkan). Tidak semua masalah pendidikan atau pembelajaran yang nyata  adalah masalah-masalah yang problematik, sebab: (i) pemecahan masalah tersebut tidak atau kurang mendapat dukungan sarana-prasarana atau birokrasi, (ii) pemecahan masalah tersebut belum  mendesak  dilaksanakan,  dan (iii) ternyata guru tidak mempunyai kewenangan penuh untuk memecahkan.  Sebagai contoh:  mayoritas siswa  yang  tidak dapat membaca   buku teks bahasa Indonesia dapat merupakan masalah  yang kurang problematik bagi seorang guru Biologi.  Masalah ini lebih merupakan tanggung jawab  seorang guru bahasa Indonesia.
(d)     Masalah harus memberi manfaat yang jelas, artinya pemecahan masalah tersebut  akan memberi  manfaat yang jelas atau nyata.  Untuk itu,  pilihlah masalah-masalah  yang  memiliki asas manfaat  secara jelas.  Untuk asas manfaat, dapat dilontarkan  beberapa pertanyaan sebagai berikut: (i)  apa yang akan terjadi, bila masalah tersebut tidak dipecahkan?, (ii) resiko  apa  bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan, dan (iii)  tujuan pendidikan yang mana yang tidak tercapai, bila masalah tersebut tidak segera dipecahkan. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut  dapat membimbing  pada penemuan masalah-masalah   yang mendesak untuk dipecahkan.
(e)      Masalah  harus feasible dapat dipecahkan, artinya  terdukung oleh  sumber daya yang ada yaitu waktu,  fasilitas, beaya dll.
Identifikasi masalah dimulai dengan kegiatan Refleksi awal mengenai kualitas pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru,   guru merasakan ada masalah dalam pembelajaran.
Untuk melakukan refleksi awal dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut :
a.       Apakah kompetensi awal siswa untuk mengikuti pelajaran cukup memadai?
b.      Apakah pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
c.       Apakah siswa cukup aktif dalam mengikuti pembelajaran?
d.      Apakah sarana prasarana pembelajaran cukup memadai?
e.       Apakah pemerolehan hasil belajar cukup tinggi?
f.       Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
g.      Bagaimana strategi pembelajaran yang digunakan?
h.      Apakah ada pengaruh dengan permasalahan yang dirasakan?
i.        Apakah ada unsur inovatif dalam pelaksanaan pembelajaran
j.        Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi pembelajaran inovatif tertentu?
Bidang kajian yang dapat dikembangkan sebagai masalah dalam PTK adalah sebagai berikut :
a.       Masalah belajar siswa di sekolah, seperti : masalah belajar di kelas, kesalahan pembelajaran, miskonsepsi dan peningkatan hasil belajar siswa.
b.      Desain dan strategi pembelajaran di kelas, seperti : masalah pengelolaan dan interaksi di dalam kelas, partisipasi orang tua dalam proses belajar-mengajar siswa.
c.       Alat bantu ,  media dan sumber belajar, seperti : masalah penggunaan media, perpustakaan dan sumber belajar didalam dan diluar kelas, peningkatan hubungan antara sekolah dan masyarakat.
d.      Sistem asesmen dan evaluasi proses dan hasil pembelajaran seperti pengembangan instrumen dalam penilaian kelas.
e.       Pengembangan pribadi peserta didik, pendidik dan tenaga kependidikan seperti : keefektifan hubungan antara pendidik, peserta didik dan orang tua dalam dalam proses belajar-mengajar serta peningkatan konsep diri peserta didik.
f.       Masalah kurikulum, seperti,seperti implementasi kurikulum urutan penyajian materi pokok, interaksi guru siswa, siswa materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar.
Berbagai masalah yang telah dirasakan kemudian diidentifikasi dengan cara sebagai berikut :
a.       Menulis semua hal yang terkait dengan permasalahan pembelajaran  yang dirasakan perlu memperoleh perhatian.
b.      Mengklasifikasi masalah sesuai dengan jenis, mencatat jumlah siswa yang mengalami, mengidentifikasi  frekuensi timbulnya masalah.
c.       Mengurutkan masalah sesuai dengan tingkat urgensinya untuk ditindaklanjuti.
2.      Menganalisis Masalah
Kegiatan analisis masalah merupakan kajian terhadap permasalahan yang sudah teridentifikasi , dengan memilih satu masalah yang  dianggap paling urgen atau mendesak untuk dipecahkan, kemudian merumuskan masalah tersebut dengan jelas. Untuk menganalisis masalah bisa dengan cara mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri atau yang disebut refleksi. Sebagai acuan dapat dapat diajukan antara lain pertanyaan sebagai berikut :
a.       Bagaimana konteks, kondisi, situasi, iklim dimana masalah terjadi ?
b.      Apa kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah?
c.       Bagaimana keterlibatan masing-masing komponen pembelajaran dalam terjadinya masalah?
3.      Perumusan masalah
Di dalam merumuskan  masalah harus memperhatikan 4 aspek sebagai berikut :
a.       Substansi : perlu mempertimbangkan bobot dan manfaat tindakan yang dipulih untuk meningkatkan dan atau memperbaiki pembelajaran.
b.      Orisinalitas tindakan : perlu mempertimbangkan belum pernah tindakan dilakukan guru sebelumnya.
c.       Formulasi : bisa dirumuskan kalimat pernyataan atau kalimat pertanyaan,  tidak bermakna ganda, lugas, menyatakan secara eksplisit dan spesifik apa yang dipermasalahkannya.
d.      Teknis : mempertimbangkan kemampuan peneliti untuk melakasanakan penelitian seperti kemampuan metodologi penelitian, penguasaan materi ajar, teori, strategi dan kemampuan menyediakan fasilitas : dana, waktu dan tenaga
4.      Analisis akar penyebab masalah  
Setelah mendapatkan masalah yang riil, problematik, bermanfaat dan feasible, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi akar penyebab masalah,, kemungkinan-kemungkinan penyebab munculnya masalah tersebut (the most probable causes)  dengan dilakukan diskusi secara intensif secara kolaborasi untuk mencari  berbagai kemungkinan penyebab masalah tersebut.   Untuk memastikan akar penyebab masalah tersebut,  beberapa  cara koleksi data diterapkan, misalnya: 1) mengembangkan angket, 2) mewancarai siswa, dan  3) melakukan observasi langsung di kondisi kelas.
Adapun akar penyebab bisa dari berbagai kemungkinan diperoleh dari :
a.       Kegiatan Belajar-mengajar (KBM)
b.      Guru
c.       Fasilitas: mis alat peraga
d.      Siswa
Dari berbagai kemungkinan tersebut  manakah yang paling dominan sebagai dasar untuk menetapkan solusi pemecahan masalah.

B.     Pemecahan Masalah
Pemecahan masalah merupakan langkah kegiatan yang sangat penting dalam alur pemecahan masalah. Pengembangan intervensi dilakukan berdasar akar penyebab masalah, dari berbagai alternatif pemecahan masalah, disaring kembali berdasarkan faktor-faktor pendukung. Agar menghasilkan dampak atau hasil yang diharapkan, diperlukan kajian tentang kelaikan solusi pemecahan masalah yang telah ditetapkan. Adapun hal-hal yang perlu dikaji adalah sebagai berikut :
1.      Guru memiliki cukup kemampuan dengan solusi pemecahan masalah yang dipilih dan ada kesediaan diri untuk melakukan.
2.      Kemampuan siswa juga perlu diperhitungkan baik dari segi fisik, psikhis, sosial budaya dan etik, dalam proses  tindakan tersebut, misalnya, guru memutuskan berapa kali memberikan tugas kepada siswa dalam seminggu, apakah siswa cukup mampu menyelesaikan, ataukah justru membuat siswa menjadi bosan dan jangan sampai tindakan yang dilakukan justru merugikan siswa.
3.      Ketersediaan sarana atau fasilitas yang diperlukan apakah tersedia di kelas atau sekolah, apakah guru dapat mengatasi dapat mengusahakan fasilitas dan sarana yang dibutuhkan?
4.      Iklim belajar di kelas atau sekolah, apakah cukup mendukung terwujudnya tindakan sesuai desain yang dipilih?
5.      Dukungan lembaga (sekolah : termasuk kepala sekolah, guru sejawat, siswa), bagaimanakah iklim kerja di sekolah , apakah ada dukungan dari kepala sekolah, rekan sejawat guru ?
6.      Terdukung waktu yang dibutuhkan.
7.      Terdukung beaya yang dibutuhkan.
Setelah menetapkan masalah yang teridentifikasi kemudian memilih masalah yang paling urgen, dan menetapkan solusi pemecahan masalah untuk intervensi, dalam tahap ini peneliti membuat rincian  operasional mengenai tindakan yang akan dilakukan, peneliti menekankan kembali tentang, apa, siapa saja akan dilibatkan dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas, akan mengerjakan apa, kapan dilaksanakan, data apa saja yang akan dikumpulkan dalam penelitian ini, instrumen apa yang dibutuhkan untuk pengumpulan data, dan pembuatan rencana perbaikan pembelajaran.
Semua guru atau siswa pasti selalu mengharapkan agar setiap proses belajar mengajar dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya. Guru mengharapkan agar siswa dapat memahami setiap materi yang diajarkan, siswapun mengharapkan agar guru dapat menyampaikan atau menjelaskan pelajaran dengan baik, sehingga memperoleh hasil belajar yang memuaskan. Akan tetapi harapan harapan itu tidak selalu dapat terwujud. Masih banyak siswa yang kurang memahami penjelasan guru. Ada siswa yang nilainya selalu rendah, bahkan ada siswa yang tidak bisa mengerjakan soal atau jika mengerjakan soalpun jawabannya asal–asalan. Semua itu menunjukkan bahwa guru harus selalu mengadakan perbaikan secara terus menerus dalam pembelajarannya, agar masalah masalah kesulitan belajar siswa dapat diatasi, sehingga  hasil belajar siswa mencapai tujuan yang diharapkan.

C.    Masalah-masalah yang Dapat Diteliti
Hopkins dalam Djojosuroto (2004:149 – 150) mengelompokkan masasalah yang dapat diteliti atas dua kelompok. Kelompok pertama adalah pembelajaran (learning), kelompok kedua pengelolaan kelas (class managemen). Hal yang berkenaan dengan pembelajaran (learning) yang dapat diteliti di antaranya adalah:
1.      pemahaman konsep yang tidak tepat;
2.      kesulitan membaca lambang-lambang;
3.      kesulitan menulis dengan rapi;
4.      kesalahan strategi belajar;
5.      rendahnya prestasi belajar.
Hal yang berkaitan dengan pengelolaan kelas (class managemen) yang dapat diteliti antara lain meliputi:
1.      sering terlambat hadir dalam kelas;
2.      sikap pasif di kelas;
3.      sikap agresif terhadap guru;
4.      sering mengantuk;
5.      sering membolos;
6.      menyontek ketika ujian;
7.      sering tidak menyelesaikan tugas tepat waktu.

D.    Masalah-masalah Pembelajaran yang dapat Dikaji Melalui PTK
1.      Masalah yang berkaitan dengan pembelajaran sehari-hari
Milss (2000), mengemukakan di antara masalah yang dapat dikaji melalui PTK adalah masalah-masalah dimana guru merasa sangat familiar karena seringkali terjadi yaitu berkaitan dengan kegiatan pembelajaran sehari-hari. Dibawah ini contoh beberapa di antara masalah pembelajaran sehari-hari yang berhasil di identifikasi guru-guru melalui kegiatan PTK
a.       Kurangnya keaktifan siswa dalam kegiatan diskusi.
b.      Rendahnya motivasi siswa dalam belajar.
c.       Siswa kurang mampu mengerjakan latihan.
d.      Rendahnya kemampuan dan keberanian siswa yang mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat dalam proses pembelajaran.
e.       Rendahnya kemampuan siswa mengerjakan soal-soal cerita pada pelajaran matematika.
f.       Sulitnya siswa mengenal dan memahami peta buta dalam pelajaran IPS.
g.      Rendahnya kemampuan siswa dalam mengarang.
2.      Cakupan masalahnya tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit
PTK tidak di arahkan untuk mengkaji masalah-masalah yang cakupannya terlalu luas sehingga di luar kemampuan guru untuk merancang dan melaksanakan tindakan guna perbaikan yang diharapkan. Adakalanya masalahnya luas dan cakupan atau ruang lingkupnya juga luas. Namun ada juga ruang lingkupnya tidak luas, misalnya kelas akan tetapi masalahnya terlalu luas. Masalah yang luas dan ruang lingkup yang luas misalnya rendahnya hasil Ebtanas seluruh bidang studi atau beberapa bidang studi SMP di suatu kecamatan, satu kabupaten atau satu provinsi. Kemudian guru sebagai peneliti bermaksud melakukan penelitian untuk memperbaiki keadaan tersebut. Pada sisi lain bias juga terjadi ruang lingkup penelitiannya tidak luas, akan tetapi masalah yang dikaji masih terlalu luas. Misalnya seorang guru mengkaji atau meneliti cara untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa, kemampuan menyimpulkan pelajaran dan kemampuan mengerjakan soal-soal latihan pada kelasa tertentu dalam waktu bersamaan atau satu rancangan PTK. Keadaan ini tentu akan menyulitkan guru, karena tindakan untuk meningkatkan kemampuan bertanya siswa, mungkin hanya akan akurat untuk meningkatkan kemampuan bertanya dan belum tentu sekaligus mampu menyimpulkan pelajaran dan mengerjakan soal-soal latihan.
Disamping tidak disarankan untuk mengkaji masalah yang terlalu luas, juga diharapkan masalah yang dikaji melalui PTK tidak terlalu sempit. Jika masalah yang terlalu luas akan menyebabkan kesulitan guru untuk menentukan tindakan yang tepat dan sesuai untuk memperbaiki keadaan tersebut dan tentu akan berakibat pada pencapaian hasil yang tidak tepat, serta akan mengalami banyak kesulitan dalam implementasinya, maka pemilihan masalah yang terlalu sempit juga dapat menyebabkan hasil yang dicapai tidak seimbang dengan waktu, tenaga serta usaha yang dilakukan guru.
3.      Sesuai kemampuan guru
Dalam sebuah tulisan yang dimuat pada Pelangi Pendidikan dikemukakan beberapa ilustrasi. Jika anda yakin bahwa ketiadaan buku yang menyebabkan siswa sukar membaca kembali materi pelajaran dan mengerjakan PR di rumah, anda tidak perlu melakukan PTK. Dengan di belikan buku masalah tersebut akan terpecahkan, dan itu di luar kemampuan anda. Dengan perkataan lain, yakinkan bahwa masalah yang anda pecahkan cukup layak, berada di wilayah pembelajaran yang dikuasai. Dikemukan pula contoh lain masalah yang berada di luar kemampuan guru : kebisingan kelas karena sekolah berada di jalan raya.
4.      Masalah yang strategis
Ukuran strategis dapat dinilai apakah tindakan perbaikan yang dilakukan itu memang prinsip dan berkontribusi bagi sebagian besar siswa dalam kerangka perbaikan pembelajaran. Kemampuan menyelesaikan soal-soal latihan tentu merupakan hal prinsip karena berkaitan langsung dengan capaian hasil belajar siswa. Kemampuan mengemukakan pendapat dan mengajukan pertanyaan merupakan hal prinsip karena berkaitan dengan pengembangan potensi siswa dan menjadi balikan untuk menilai keberhasilan mengajar guru.
5.      Masalah yang membutuhkan penanganan yang relative segera
Salah satu ciri PTK adalah bahwa PTK merupakan cara pemecahan masalah yang hasilnya dapat dipergunakan langsung untuk memperbaiki pembelajaran. Sangat berbeda bentuk penelitian lain yang memerlukan waktu lama untuk dapat diimplementasikan oleh guru bagi perbaikan kinerja pembelajaran. Karena sifatnya yang demikian, maka masalah yang dikaji melalui PTK juga disarankan adalah masalah-masalah yang memerlukan penanganan relative segera, dimana jika masalah tersebut tidak cepat dicari solusi pemecahannya akan menimbulkan kendala bagi perbaikan proses dan hasil belajar yang dicapai. Pihak yang paling memahami masalah-masalah apa saja yang membutuhkan penanganan segera adalah guru. Oleh sebab itu, untuk mengingatkan kita bersama, andaikata PTK dilakukan secara kolaboratif (misalnya kolaborasi, dosen LPTK dan guru), maka yang harus menentukan masalah-masalah apa yang menjadi kebutuhan segera untuk di pecahkan adalah guru. Peran dosen dalam hal ini adalah membantu memperjelas masalah tersebut, bukan menentukan.
6.      Masalah yang dikembangkan harus nyata
PTK menghendaki hasil yang nyata dan dalam waktu yang singkat dapat dipergunakan langsung untuk memperbaiki pembelajaran. Oleh sebab itu masalah-masalah yang dapat dikaji melalui PTK adalah masalah yang benar-benar nyata yang memungkinkan guru dapat secara jelas menentukan tindakan perbaikan. Jika guru merasa bahwa masalah yang ia hadapi masih bersifat samar-samar, maka terlebih dahulu perlu dikaji dan dikenali secara cermat. Meskipun menurut pengamatan sementara, guru melihat ada beberapa masalah yang saling terkait, maka guru harus cerdas memutuskan satu masalah utama yang membutuhkan penanganan segera.
7.      Memerlukan penanganan secara berkelanjutan
            Salah satu ciri PTK yaitu adanya siklus yang berkelanjutan. Siklus ini memungkinkan guru menentukan cara dan langkah perbaikan sekaligus menilai tingkat keberhasilan cara yang ditempuh pada setiap siklus tertentu dan selanjutnya menyempurnakan tindakan perbaikan jika hasil yang dicapai belum optimal. Sebelumnya juga telah dibahas bahwa di antara masalah pembelajaran yang disarankan untuk dikaji melalui PTK adalah masalah-masalah strategi dalam pembelajaran. Masalah-masalah strategi umumnya jarang sekali dapat diperbaiki atau diselesaikan dalam satu siklus penelitian apalagi dengan hanya melakukan satu kali tindakan perbaikan, akan tetapi biasanya menghendaki tahapan-tahapan yang cukup lama untuk mencapai perubahan yang optimal. Terkait dengan ciri ini, maka masalah yang akan dikaji atau dipecahkan melalui PTK adalah masalah-masalah pembelajaran yang memerlukan penanganan secara berkelanjutan. 

Komentar

  1. Terimakasih atas informasinya, postingan ini sangat membantu untuk materi yang sedang saya cari
    kalau boleh tahu sumbernya dari buku atau sumber lainnya apa?

    BalasHapus
  2. Terima kasih atas tulisan yang sangat baik ini, informasi ini sangat membantu saya dalam penulisan PTK

    BalasHapus

Posting Komentar